Organisasi

ID #3083

Sejarah Universitas Gunadarma

Selain budi atau akhlak, manusia masih memerlukan sejumlah hajat untuk dapat hidup layak di dunia ini. Manusia memerlukan makanan dan minuman, kesehatan dan kebersihan, pakaian dan keindahan, hunian dan pemukiman, transportasi dan komunikasi, serta budi bahasa dan pendidikan. Dari waktu ke waktu, hajat hidup ini memperoleh standar baru sesuai dengan perkembangan zaman. Acuan dari standar ini selalu berpatokan kepada martabat manusia, sehingga dalam batas kemungkinan, manusia terus berusaha untuk mempertinggi martabat kemanusiaan di bumi ini.
     Tanpa mengurangi perhatian kita kepada kepentingan berbagai hajat lainnya di dalam hidup ini, di sini, kita mencoba untuk melihat satu saja di antara berbagai hajat hidup itu. Kita melihat hajat hidup yang berbentuk pendidikan. Kita menelaah bagaimana pendidikan ini berkaitan dengan perkembangan kehidupan di dalam masyarakat. Dan kita mencatat pula sebagian hal yang mempengaruhi pendidikan beserta standar di dalam pendidikan itu.
Standar baru di dalam pendidikan selalu menuntut adanya perubahan di dalam pendidikan. Perubahan ini dapat saja muncul dalam berbagai wujud. Ada kalanya, perubahan itu muncul dalam bentuk pembaruan sistem. Ada kalanya pula, perubahan itu tiba dalam bentuk bahan pelajaran baru. Perpaduan di antara berbagai perubahan di dalam pendidikan membawa pendidikan kita ke dalam kegiatan yang selalu dinamik. Dan bersama dinamika itu, pendidikan kita berusaha untuk berkembang bersama dengan semua hajat yang ada di dalam hidup manusia.
Dalam batas tertentu, standar baru pada pendidikan berkaitan pula dengan keadaan hidup di dalam masyarakat. Pada waktunya, pendidikan menyesuaikan diri kepada keadaan masyarakatnya. Dan pada saatnya pula, pendidikan menjadi perintis bagi perubahan di dalam masyarakat. Kaitan di antara pendidikan dan masyarakat ini bersumber pada hakikat hidup. Dan hakikat hidup itu selalu menuntut agar kaitan demikian dapat membuat seluruh hajat hidup manusia menjadi satu sistem yang utuh.
Bagi sekelompok manusia, kata abstrak yang memadukan pendidikan dengan masyarakat ini, perlu dieja ke dalam bentuk yang kasatmata. Dalam  pengejaan seperti inilah, mereka menyaksikan berbagai perkembangan masyarakat dalam wujudnya yang nyata. Dan bersamaan dengan itu, mereka melihat juga pendidikan di dalam bentuknya yang sejati.
Kelompok manusia yang kebetulan berfungsi sebagai pendidik itu, melihat betapa pesatnya suatu era baru tengah menyingsing di dalam masyarakat kita. Melalui luapan alat yang berwujud komputer, komunikasi di dalam masyarakat  mengenal dimensi baru. Masyarakat kita mulai memperlakukan data dan informasi melalui suatu standar baru. Data mulai diolah dengan kecermatan dan kecepatan yang tinggi. Informasi yang biasanya terletak di luar jangkauan olah mulai masuk ke dalam jangkauan olah. Dan bersama itu, masyarakat mulai menyadari kenyataan bahwa era baru telah muncul di dalam hidup mereka.
Dalam rangka inilah, kelompok manusia pendidik itu mulai melihat suatu kenyataan baru. Melalui kaitan di antara masyarakat dan pendidikan, standar baru di dalam masyarakat perlu diimbangi pula oleh standar baru di dalam pendidikan. Kalau masyarakat telah memasuki era baru dengan menerima kehadiran komputer, maka pada tempatnyalah kalau pendidikan mulai pula merintis pengetahuan tentang komputer itu. Dan bersama itu, pendidikan komputer merupakan salah satu standar baru di dalam dinamika pendidikan zaman sekarang.
Segera pula kelompok manusia pendidik itu mengambil tindakan kasatmata. Pada hari Jumat tanggal 7 Agustus 1981, mereka membuka pendidikan komputer dengan nama Program Pendidikan Ilmu Komputer (PPIK) yang menampung 94 orang mahasiswa. Dan pada hari Senin, tanggal 10 Agustus 1981, kuliah pertama pun dimulai. Kuliah ini pun berkembang sehingga menuntut suatu wadah yang lebih mantap. Melalui asuhan Yayasan Pengembangan Sistem Analisis dan Operation Research Matematika, wadah pendidikan itu berubah menjadi Akademi Sains dan Komputer Indonesia (ASKI). Sejak itu meluncurlah suatu kegiatan untuk membangkitkan standar baru di dalam pendidikan. Kegiatan itu berbentuk pendidikan ilmu komputer dan matematika.
Pendidikan komputer dan matematika ini pun kemudian dimantapkan lagi ke dalam wadah yang lebih tinggi yakni dari wadah yang berbentuk akademik ke wadah yang berbentuk sekolah tinggi. Pada hari Kamis, tanggal 21 Juni 1984, nama Gunadarma dipilih untuk dijadikan  nama dari sekolah tinggi itu. Pada hari Senin, tanggal 9 Juli 1984, Yayasan Pengembangan Sistem Analisis dan Operation Research Matematika diganti menjadi Yayasan Pendidikan Gunadarma. Sehari kemudian, pada hari Selasa, tanggal 10 Juli 1984, melalui surat keputusan Yayasan Pendidikan Gunadarma, secara resmi nama Gunadarma dikukuhkan ke dalam nama sekolah tinggi itu menjadi Sekolah Tinggi Komputer Gunadarma (STKG). Bersama itu, sejak dari tanggal 7 Agustus 1981 melewati tonggak tanggal 21 Juni 1984, tanggal 9 Juli 1984, serta tanggal 10 Juli 1984, satu kurun sejarah telah mengantar pendidikan komputer pada Sekolah Tinggi Komputer Gunadarma ke kurun sejarah berikutnya.
Pemantapan ini kemudian dikukuhkan lagi melalui keputusan yang dirintis oleh Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah III. Pada hari Selasa, tanggal 14 Agustus 1984, Kopertis III memberikan izin operasional kepada STKG. Untuk membangkitkan semangat belajar yang lebih tinggi di kalangan mahasiswa, pada hari Jumat, tanggal 28 September 1984, diselenggarakanlah oleh Gunadarma upacara wisuda pertama setara sarjana muda, untuk diulangi lagi pada hari Selasa, tanggal 24 September 1985, dan pada hari Jumat,  tanggal 26 September 1986. Sampai di sini, kita mulai melihat STKG ini berkembang di beberapa dimensi serta bersama itu, kita melihat perkembangan itu dari dimensi ke dimensi.
Dimensi pertama adalah dimensi program pendidikan. Pada dimensi ini, STKG mulai memperoleh kemajuan yang cukup pesat. Pada hari Sabtu, tanggal 5 Oktober 1985, melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0424/O/1985, sekolah tinggi ini dinyatakan berstatus terdaftar dengan nama baru Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Gunadarma. Bersamaan dengan  itu, STKG berubah menjadi STMIK Gunadarma. Secara lebih rinci lagi, di dalam status terdaftarnya itu, Gunadarma dapat mengasuh dua jenjang pendidikan yakni jenjang pendidikan tinggi strata satu (S1) serta jenjang pendidikan tinggi strata nol (S0) dalam bentuk diploma tiga (D3).
Bersama status itu, sekolah tinggi ini mengasuh dua jurusan yakni Jurusan Manajemen Informatika (MI) dan Jurusan Teknik Komputer (TK). Setiap jurusan memiliki satu program studi yang memiliki nama yang sama dengan jurusannya itu. Demikianlah pada Jurusan Manajemen Informatika terdapat Program Studi Manajemen Informatika untuk jenjang S1 dan D3 serta pada Jurusan Teknik Komputer terdapat Program Studi Teknik Komputer untuk jenjang S1 dan D3. Dan sebagai pemantapan lebih lanjut, pada hari Selasa, tanggal 29 Juli 1986, STMIK Gunadarma memperoleh statuta baru dari Yayasan Pendidikan Gunadarma.
Pada hari Selasa, tanggal 13 Januari 1987, untuk pertama kali, STMIK Gunadarma menyelenggarakan sidang ujian sarjana yang diikuti oleh tiga mahasiswa. Sidang ujian kedua untuk tiga mahasiswa berikutnya, diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 16 Januari 1987. Dan sidang ujian ketiga yang diikuti oleh empat mahasiswa diselenggarakan pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 1987. Kalau pada tahun 1984, 1985, dan 1986, perguruan tinggi ini hanya dapat menyelenggarakan wisuda setara sarjana muda, maka pada tahun 1987 ini, STMIK Gunadarma telah mampu menyelenggarakan wisuda sesungguhnya. Demikianlah pada hari Sabtu, tanggal 24 Januari 1987, STMIK Gunadarma menyelenggarakan wisuda sarjana yang pertama.
Untuk mengukuhkan ujian sarjana itu, maka mulai hari  Selasa, tanggal 16 Juni 1987, untuk pertama kalinya, STMIK Gunadarma menyelenggarakan Ujian Negara Cicilan (UNC). UNC pertama ini berlangsung  dalam status terdaftar. Sejak itu, terjadilah maraton di antara sidang ujian sarjana, ujian negara cicilan, dan wisuda. Gabungan dari semua unsur itu menghasilkan sarjana manajemen informatika dan sarjana teknik komputer lulusan STMIK Gunadarma yang terus bercurahan ke dalam masyarakat.
Sidang ujian sarjana ke-4, ke-5, ke-6 berlangsung pada hari Selasa, tanggal 29 September 1987, pada hari Selasa, tanggal 6 Oktober 1987, pada hari Jumat, tanggal 9 Oktober 1987. Dan sidang ujian sarjana ini pun terus berlangsung sehingga pada bulan Maret 1996, STMIK Gunadarma telah melampaui sidangnya yang ke-200. Ujian negara cicilan kedua, ketiga, keempat, berlangsung mulai hari Senin, tanggal 1 November 1987, mulai hari hari Senin, tanggal 20 Juni 1988, mulai hari Senin, tanggal 12 Desember 1988. Dan ujian negara cicilan ini pun terus berlangsung pada setiap semester sampai sekarang ini. Wisuda sarjana kedua, ketiga, keempat, berlangsung pada hari Selasa, tanggal 16 Februari 1988, pada hari Sabtu, tanggal 21 Januari 1989, pada hari Sabtu, tanggal 17 Februari 1990. Dan demikianlah, wisuda terus berlangsung, dari setahun sekali menjadi setahun dua kali,  sehingga mencapai wisuda ke-14 yang berlangsung pada bulan April tahun 1996 ini.
Kemajuan di dimensi program ini tidak hanya sampai di situ. Pada hari Senin, tanggal 4 Januari 1988, melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 006/O/1988, status terdaftar STMIK Gunadarma Program Studi Manajemen Informatika dan Program Studi Teknik Komputer dinaikkan menjadi status diakui. Dan sekali lagi, pada hari Sabtu, tanggal 12 Agustus 1989, melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0490/O/1989, status kedua program studi itu dinaikkan lagi menjadi status disamakan.
Pengembangan program pendidikan terus berlanjut sehingga pada hari Selasa, tanggal 4 Juli 1989, STMIK Gunadarma membuka lagi jurusan baru yakni Jurusan Teknik Informatika (TI) dengan Program Studi Teknik Informatika. Pada hari Kamis, tanggal 7 September 1989, jurusan dan program studi baru ini memperoleh status terdaftar. Selanjutnya, status diakui dicapai oleh Program Studi Teknik Informatika pada hari Rabu, tanggal 19 Juni 1991, serta status disamakan diperoleh pada hari Kamis, tanggal 20 Februari 1992. Dan bersamaan dengan itu, semua program studi di STMIK Gunadarma telah mencapai status disamakan.
Pengembangan program pendidikan terus juga berlangsung. Selain program pendidikan jenjang D3 dan jenjang S1, perguruan tinggi ini juga melangkah maju ke program pendidikan tinggi strata dua (S2) yang dikenal sebagai program pendidikan magister. Pada hari Senin, tanggal 10 Mei 1993, STMIK Gunadarma dilengkapi lagi dengan Program Pascasarjana Strata Dua bidang Manajemen dan Manajemen Sistem Informasi.
Di samping bidang manajemen informatika, teknik komputer, dan teknik informatika, Gunadarma juga melangkah ke bidang lain. Pada hari Sabtu, tanggal 13 Januari 1990, Gunadarma mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Gunadarma atau dikenal sebagai STIE Gunadarma. Di dalam STIE Gunadarma terdapat dua jurusan yakni jurusan manajemen dan jurusan akuntansi. Kalau Jurusan Akuntansi hanya mengasuh satu program studi yakni Program Studi Akuntansi, maka Jurusan Manajemen mengasuh enam program studi. STIE Gunadarma memperoleh status terdaftar pada hari Kamis, tanggal 16 Juni 1990 serta mulai berkuliah pada hari Senin, tanggal 17 September 1990.
Sejalan dengan STMIK Gunadarma, status STIE Gunadarma juga mengalami kemajuan yang pesat. Dari status terdaftar, perguruan tinggi ini memperoleh status diakui dan kemudian status disamakan. Sampai pada bulan April 1996 ini, STIE telah menyelenggarakan enam kali wisuda. Selanjutnya, bersamaan waktu dengan pembukaan program pendidikan tinggi strata dua bidang manajemen sistem informasi pada STMIK, STIE juga membuka program pendidikan tinggi strata dua di bidang manajemen asuransi dan perbankan.
Dimensi kedua adalah dimensi prasarana dan sarana. Di bidang prasarana dan sarana ini, lokasi pendidikan juga mengalami banyak kemajuan. Kalau pada saat awal, lokasi pendidikan hanya terdapat di kampus jalan Kenari, maka pada waktu kemudian, lokasi itu bertambah dengan kampus Kramat Sentiong dan kampus Salemba. Dari tahun ke tahun, ketiga kampus ini menampung jumlah mahasiswa yang terus bertambah. Sekalipun ruang di kampus Kenari terus diperluas, namun pada akhirnya, perluasan kampus ini pun tidak dapat menampung pertambahan mahasiswa yang demikian besarnya.
Demikianlah pada hari Sabtu, tanggal 9 Maret 1985, Gunadarma mengadakan upacara peletakan batu pertama di kampus Pondokcina, Depok,  dan pada hari Senin, tanggal 5 Januari 1987, dengan suatu upacara, gedung pertama di kampus Pondokcina diresmikan penggunaannya. Sejak itu, gedung di kampus Pondokcina ini bertambah. Mula-mula, batu pertama untuk gedung kedua diletakkan pada hari Sabtu, tanggal 26 September 1987 dan gedung kedua ini pun mulai dipakai pada hari Jumat, tanggal 13 Januari 1989. Setelah itu, gedung ketiga pun dibangun dan dipakai. Ruang di dalam ketiga gedung ini masih juga belum mencukupi sehingga masih dilengkapi lagi dengan sejumlah gedung sementara di sekitarnya.
Selain Pondokcina, prasarana kampus telah dipersiapkan juga di Beji. Namun sampai sekarang, karena akses ke daerah kampus itu belum memadai, maka kampus Beji belum juga diwujudkan. Sebaliknya, kampus di tengah kota Jakarta ikut bertambah. Setelah mengembalikan kampus Salemba yang masa sewanya telah usai, maka pada hari Kamis, tanggal 8 Februari 1990, Gunadarma menambah kampus baru di Jalan Raya Salemba Nomor 53. Kampus ini pun dikenal sebagai kampus Salemba dan mulai digunakan pada bulan Mei tahun 1990. Ini berarti bahwa di samping kampus Beji yang belum terwujud, Gunadarma telah memiliki beberapa kampus yakni kampus Kenari, kampus Kramat Sentiong, kampus Pondokcina, dan kampus Salemba.
Tekanan jumlah mahasiswa menyebabkan Gunadarma mencari lagi kampus baru. Pada bulan Januari tahun 1991, Gunadarma memperoleh tanah di Kelapa Dua yang terletak di jalan akses UI di dekat Pondokcina. Pada hari Kamis, tanggal 28 Maret 1991, batu pertama untuk gedung pertama di kampus Kelapa Dua diletakkan dan pada hari Selasa, tanggal 17 September 1991, gedung pertama kampus Kelapa Dua mulai digunakan. Sejak itu, kampus Kelapa Dua terus berkembang sehingga mencapai lima gedung kuliah.
Gunadarma bercita-cita untuk membangun gedung delapan lantai di kampus Kenari. Sementara kampus seperti ini belum terwujud, perkuliahan di kampus Kenari dialihkan ke kampus sementara di Pegangsaan. Demikianlah, perkuliahan di Gunadarma berlangsung di lima kampus yang terpencar dari tengah Jakarta sampai ke Depok. Semua kampus ini dikoordinasikan dari satu pusat yang terletak di kampus Pondokcina.
Prasarana dan sarana lain adalah laboratorium. Di samping Perpustakaan dan Laboratorium Komputer yang telah terbentuk sejak zaman PPIK, maka pada hari Kamis, tanggal 16 Desember 1986, Gunadarma meresmikan Laboratorium Elektronika Dasar. Pada hari Senin, tanggal 23 Maret 1987, Gunadarma meresmikan Laboratorium Fisika. Laboratorium inilah yang telah digunakan oleh Gunadarma untuk menyelenggarakan promosi open house pada hari Selasa, tanggal 28 Maret 1989.
Sekalipun tidak berwujud alat dan gedung, sarana yang cukup penting di Gunadarma adalah majalah ilmiah Matematika dan Komputer yang mulai terbit sejak bulan Januari 1985. Dengan penerbitan lima kali setahun, majalah ini memperoleh surat tanda terdaftar di Departemen Penerangan pada hari Sabtu, tanggal 17 Januari 1987. Tulisan di dalam majalah ilmiah ini telah membantu Gunadarma dengan perluasan informasi tentang pendidikan di dalam Gunadarma.
Sarana lain yang cukup berhasil di Gunadarma selama ini adalah penerbitan buku dan diktat. Telah banyak judul buku dan diktat yang dicetak oleh Gunadarma untuk keperluan kuliah para mahasiswa. Selain dalam bentuk konvensional berupa buku, beberapa bahan kuliah pun telah diwujudkan dalam bentuk audio dan visual di dalam pita video yang setiap saat dapat ditampilkan di layar monitor. 
Dimensi ketiga adalah kegiatan di luar kurikulum. Selain kegiatan lomba kecerdasan, baik tingkat nasional maupun tingkat internasional, tampaknya kegiatan Gunadarma yang paling menonjol adalah di bidang catur.
Wadah kegiatan catur adalah Pencinta Catur Gunadarma atau PC Gunadarma yang diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 25 Februari 1989. PC Gunadarma telah berhasil menyelenggarakan lomba catur taraf internasional yang melibatkan grand master catur internasional untuk perebutan gelar dunia di bidang catur.
Setelah meninjau perkembangan pada beberapa dimensi ini, kita kembali ke pemikiran dasar Gunadarma. Gunadarma memiliki dua muka yang mendorong maju hajat hidupnya di dalam masyarakat masa kini. Pada satu muka, Gunadarma adalah nama arsitek tenar yang membangun candi Borobudur yakni suatu monumen besar sepanjang sejarah kita. Pada muka lainnya, Gunadarma mencerminkan baktinya dan sumbangsihnya kepada masyarakat dalam wujud guna dan darma. Sebagai salah satu perintis standar baru di dalam pendidikan, Gunadarma berusaha pula untuk mengisi kemampuan masyarakat di dalam standar baru kehidupan bermasyarakat masa kini melalui penyelenggarakan pendidikan. Dan di dalam hal ini, Gunadarma telah memulainya dari pendidikan di bidang komputer.
Di dalam pelaksanaan pendidikannya itu, unsur guna dan  unsur darma senantiasa menjadi pegangan untuk dijadikan sumbangsih Gunadarma kepada masyarakat dan ilmu. Gagasan ini turut merumuskan susunan kurikulum di dalam pendidikan. Unsur profesi dan unsur ilmu di dalam kurikulum senantiasa menjadi perhatian para pengasuhnya. Keterampilan profesi dan kemampuan ilmu mewarnai pendidikan dari awal sampai akhir.
Dalam rangka inilah, laboratorium, pustaka, dan jurnal memperoleh perhatian Gunadarma. Di dalam ribaannya, terdapat Laboratorium Gunadarma (LG) yang mewakili berbagai laboratorium dan bengkel yang di dalam Gunadarma serta Pustaka Gunadarma (PG) yang mewakili perpustakaan, penerbitan buku, dan penerbitan jurnal berupa Matematika dan Komputer yang kelak dapat disusul dengan penerbitan jurnal lainnya.
Dari waktu ke waktu, LG terus ditingkatkan agar praktek para mahasiswa dapat diperlancar. Bahkan, pengasuh Gunadarma bercita-cita lebih dari itu. Mereka berkehendak agar penggunaan laboratorium tidak sekedar terbatas kepada praktek di dalam pelajaran. Mereka menginginkan agar LG terbuka juga bagi penelitian dan bagi percobaan yang bersifat inovatif, baik berupa penciptaan maupun berupa penemuan baru. Siapa saja yang memiliki gagasan baru yang akan dicoba, dapat saja menggunakan LG untuk maksudnya itu.
Niat untuk maju ini senantiasa diusahakan untuk ditunjang oleh pustaka yang sebaik mungkin. Selama beberapa tahun ini, PG selalu memperoleh perhatian yang besar dari pengasuh Gunadarma. Pustaka cetak dan pustaka rekam terus menerus diperluas untuk menunjang kegiatan belajar ke berbagai cabang ilmu yang diasuh oleh sekolah tinggi ini. Di samping LG, PG juga menempati kedudukan sentral di lingkungan Gunadarma.
Di dalam dua wadah yang berupa LG dan PG, tiga serangkai laboratorium, pustaka, dan jurnal ilmiah di Gunadarma ini merupakan satu kesatuan utuh untuk mewujudkan sumbangsih Gunadarma di dalam bentuk guna dan darma. Sejalan dengan usia Gunadarma yang masih muda, mereka juga masih bergerak dalam taraf awal dari kegiatan mereka. Namun, melalui perhatian yang besar dari para pengasuh Gunadarma, mereka diharapkan dapat berkembang secara wajar untuk mewujudkan cita-cita Gunadarma Dari STMIK Gunadarma, ke STIE Gunadarma, ke Program Pascasarjana Gunadarma, pendidikan ini akan terus berkembang menuju dan sampai ke wujud Universitas Gunadarma.
Di dalam rangka inilah, tiga serangkai itu mencoba untuk menyusun sejumlah kegiatan yang dapat mencerminkan cita-cita Gunadarma. Di dalam kegiatan itu, terdapat penelitian, kelompok studi, dan penataran. Guna bagi masyarakat dan darma bagi ilmu tercermin pula di dalam kegiatan itu. Penelitian dan kelompok studi di kalangan pengasuh Gunadarma berusaha untuk berdarma bagi ilmu  sementara penataran berusaha untuk berguna bagi masyarakat.
Ada satu hal penting yang selalu menghantui pengasuh  Gunadarma di dalam usaha mereka untuk memberi arah kepada Gunadarma. Hal penting itu adalah mutu. Segala usaha dilakukan, tidak saja demi peningkatan mutu pendidikan, melainkan juga demi peningkatan mutu ilmu di lingkungan Gunadarma. Dan usaha itu pula yang seharusnya tampak di dalam kegiatan Gunadarma selama ini.
Di dalam pembangunannya, Gunadarma selalu bersikap selektif. Prioritas pembangunan selalu mengarah ke peningkatan mutu. Setapak demi setapak, Gunadarma berusaha mengutamakan pengadaan ruang belajar, ruang laboratorium, ruang pustaka, dan sarana publikasi. Mereka itulah unsur pokok dalam pembinaan mutu, baik mutu para dosennya maupun mutu para mahasiswanya. Betapapun juga, mahasiswa yang diajar oleh dosen yang tenar akan selalu memperoleh keuntungan dari ketenaran dosennya itu.
Namun prasarana untuk peningkatan ini masih perlu ditunjang lagi oleh sarana lain. Ruang belajar belum sama dengan belajar, pustaka belum sama dengan membaca, laboratorium belum sama dengan berpraktek, serta majalah belum sama dengan menulis. Sarana pokok yang perlu mendampingi prasarana itu adalah suasana lingkungan belajar yang baik berupa budaya Gunadarma. Hanya suasana lingkungan belajar yang baik atau budaya Gunadarma yang dapat membuat ruang belajar itu tempat belajar, pustaka itu tempat membaca, laboratorium itu tempat berpraktek, serta majalah atau jurnal itu tempat menulis.
Hal inilah yang menyebabkan pengasuh Gunadarma berusaha untuk membina budaya Gunadarma atau suasana yang baik di lingkungan belajar di Gunadarma. Budaya Gunadarma atau suasana yang baik di lingkungan belajar menyangkut manusia. Dan manusia itulah yang menentukan bagaimana bentuk suasana di lingkungan belajar mereka. Itulah sebabnya maka selama ini, Gunadarma selalu berusaha menghimpun tenaga pengasuh yang memiliki kegemaran untuk belajar. Kepada kelompok gemar belajar inilah Gunadarma menyerahkan tanggung jawab untuk menularkan kegemaran itu ke seluruh lingkungan Gunadarma untuk dimantapkan menjadi bagian dari budaya Gunadarma.
Demikianlah, di samping ruang belajar, pustaka, laboratorium, dan majalah, kelompok gemar belajar merupakan aset Gunadarma yang selalu diutamakan di dalam pembangunan Gunadarma. Kelompok gemar belajar ditargetkan untuk menjadi inti penggerak pendidikan di lingkungan Gunadarma. Dan kegemaran belajar ini pula yang akan ditanamkan di kalangan mahasiswa yang telah memilih Gunadarma sebagai almamater mereka.
Berguna bagi masyarakat dan berdarma bagi ilmu memiliki implikasi yang luas. Pada masa yang akan datang, Gunadarma bercita-cita untuk menelaah bidang ilmu lainnya yang pada saat ini, secara nyata, telah menampakkan keefektifan dari segi profesinya dan segi ilmunya di dalam masyarakat. Gunadarma akan menjamah bidang ilmu lain di luar komputer dan ekonomi untuk menyumbangkan guna dan darmanya kepada masyarakat.
Manakala kekuatannya sudah cukup memadai, maka Gunadarma akan menjamah pula bidang ilmu demikian untuk mengikuti dan mengejawantahkan standar baru di dalam masyarakat dan standar baru di dalam pendidikan. Pada waktunya, Gunadarma bercita-cita untuk meningkatkan dirinya dari wadah sekolah tinggi ke wadah yang lebih tinggi lagi yakni ke tingkat universitas. Namun peningkatan demikian ini tidak dilakukan tanpa mutu yang memadai. Di samping perhatian kepada keluasan kegiatan di bidang pendidikan, Gunadarma tetap menempatkan mutu atau kualitas pada tempat yang utama.
Gunadarma adalah suatu keseluruhan yang bernama Gunadarma. Gunadarma bukan hanya sekedar STMIK Gunadarma. Demikian juga, Gunadarma bukan hanya sekedar STIE Gunadarma. Gunadarma juga bukan sekedar Program Pascasarjana Gunadarma. Gunadarma adalah keseluruhan yang bernama Gunadarma, dari STMIK, STIE, ke berbagai wadah perkembangan lainnya, sampai ke Universitas Gunadarma. Di dalam Gunadarma terdapat LG dan PG, di dalam Gunadarma terdapat laboratorium, pustaka, dan jurnal ilmiah, di dalam Gunadarma terdapat penelitian, kelompok studi, dan penataran, di dalam Gunadarma terdapat budaya Gunadarma dalam wujud lingkungan belajar yang memadai, di dalam Gunadarma terdapat guna bagi masyarakat dan darma bagi ilmu, dan di dalam Gunadarma terdapat sumbangsih guna dan darma yang diberikan oleh Gunadarma kepada masyarakat.
Ternyata cita-cita ini tidak berhenti sebagai cita-cita saja. Setelah lima belas tahun lamanya lembaga pendidikan ini berdiri sambil merayap dari Program Pendidikan Ilmu Komputer (PPIK) yang bersahaja ke Akademi Sains dan Komputer Indonesia yang lebih sederhana ke STMIK dan STIE Gunadarma yang lebih mantap, maka pada tahun 1996 lembaga pendidikan itu berhasil sampai ke taraf yang sudah lama dicita-citakan. Melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 92/Kep/Dikti/1996, tanggal 3 April 1996. Lembaga pendidikan itu berhasil dikukuhkan menjadi Universitas Gunadarama (UG). Di bawah naungannya terdapat sejumlah fakultas dari Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Teknologi Industri, dan Fakultas Ekonomi dengan program studi yang telah memiliki status disamakan sampai ke Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Sastra yang sama sekali baru. Mereka tersebar di enam kampus dari Kampus A sampai Kampus G.
Pada tahun 1996, kedudukan Universitas Gunadarma cukup luar biasa. Ibarat bulan Januari dengan dewa Janus yang memiliki dua muka, satu muka menatap ke tahun yang lama serta muka lain menatap ke tahun yang baru, maka UG pun memiliki dua muka. Pada satu muka, UG merupakan puncak dari suatu perkembangan, dari wujud program yang bersahaja sampai ke wujud universitas yang kompleks. Pada muka lain, UG baru mulai bergerak yang seolah-olah kembali ke masa awalnya pada tahun 1981. Seperti halnya bulan Januari yang meninggalkan tahun yang lama untuk membuka lembaran tahun yang baru, UG pun kini meninggalkan masa lalunya yang berwujud program, akademik, dan sekolah tinggi untuk memulai lembaran baru yang berwujud universitas.
Di lembaran baru ini, UG perlu memastikan kembali  komitmen Gunadarma yang lama. UG akan terus mengembangkan laboratorium, perpustakaan, jurnal ilmiah, penelitian, kelompok studi, penataran, dan lingkungan belajar. Di dalam UG tetap terukir komitmen lama untuk berguna bagi masyarakat dan berdarma bagi ilmu. Guna dan darma akan tetap merupakan sumbangsih Gunadarma sejak sekarang sampai ke masa mendatang. Dan dengan semua komitmen ini, UG membuka sejarah baru dengan lembaran kertas yang masih kosong. Hari-hari kemudian akan mengisi lembaran kosong itu dengan goresan sejarah universitas yang dimulai pada tahun 1996.
Setelah melalui perjuangan panjang dalam menghadapi berbagai tantangan, Universitas Gunadama telah menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia yang berbasis teknologi informasi. Pengalaman selama lebih dari seperempat abad yang diiringi pengabdian dan dedikasi tenaga pengajar; komitmen yayasan dan pimpinan; pengadaan fasilitas pembelajaran serta kepercayaan masyarakat, Universitas  Gunadarma akan terus berupaya menghasilkan lulusan yang berguna dan bisa mendarmabaktikan kompetensinya demi membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
Komitmen jangka panjang Universitas Gunadarma adalah ikut berperan aktif meningkatkan daya saing bangsa melalui proses pendidikan tinggi yang bertujuan untuk menjadikan mahasiswa dan lulusan sebagai aset bangsa yang berkarakter cerdas, mandiri, kompetitif, dan profesional. Dengan program pendidikan yang terdiri dari 6 program D3, 12 program sarjana, 6 program magister, dan 2 program doktor, Universitas Gunadarma mempunyai komitmen untuk menggapai visi dan misi untuk  untuk periode 2007-2011

Tags: sejarah, gunadarma

Related entries: -

Terakhir diperbaharui: 2009-01-12 15:41
Penulis: aielza_tri_hartanto
Revision: 1.3

Digg it! Cetak materi ini Kirim ke teman Tunjukkan materi ini sebagai berkas PDF
Propose a translation for Propose a translation for
Beri nilai materi ini:

Nilai rata-rata: 3.67 dari 5 (3 Suara )

sangat tak berguna 1 2 3 4 5 sangat berguna

Anda tidak diperbolehkan untuk memberikan komentar pada materi ini

Komentar dari jOSzRbZYln:
http://www.guenstigerkreditonline.net/ http://www.privaterkreditvergleich.top/
Added at: 2017-01-17 18:05